Ini Kata Pemerhati dan Konsultan Lingkungan Hidup,Soal Sampah Ada Solusinya

Spread the love

BEKAP JABAR – KABUPATEN BEKASI || Pemerhati dan Konsultan Lingkungan Hidup menilai perluasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, Kecamatan Setu, bukan merupakan solusi dari persoalan sampah di wilayah Kabupaten Bekasi yang saat ini sudah berada dalam level cukup memprihatinkan.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Bekasi sendiri, sudah melakukan kajian bahwa TPA Burangkeng hanya bisa menampung sampah di Kabupaten Bekasi sampai tahun 2021, sehingga tahun lalu Pemda Kabupaten (Pemkab) Bekasi sudah menganggarkan untuk perluasan TPA Burangkeng.

Pemerhati dan Konsultan Lingkungan Hidup, Nugraha Hamdan mengatakan, persoalan sampah bukan hanya menjadi permasalahan di Kabupaten Bekasi, tetapi juga di Indonesia, karena itu Presiden telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 2018 mengenai prioritas percepatan pembangunan waste energy atau pembangkit listrik tenaga sampah di 12 Kabupaten/Kota di Indonesia.

“Penanganan sampah di wilayah Kabupaten Bekasi ini hanya ada dua pilihan, yaitu perluasan TPA Burangkeng atau pengayaan teknologi untuk pengelolaannya,” ungkap pria yang akrab disapa Nunu ini kepada para awak media.

Nunu mengaku optimis banyak investor yang mau turut andil jika pengayaan teknologi bisa menjadi solusi dalam penanganan sampah di wilayah Kabupaten Bekasi, karena pengayaan teknologi tersebut sudah diterapkan di sejumlah negara maju.

Pemda Kabupaten Bekasi melalui DLH, kata Nunu, sudah mendukung penerapan teknologi dalam penanganan sampah di Kabupaten Bekasi. Dirinya juga berharap agar anggota DPRD Kabupaten Bekasi segera melakukan langkah untuk membuat Peraturan Daerah (Perda) inisiatif mengenai penanganan sampah dari hulu sampai hilir.

“Kami menargetkan tahun ini Perda inisiatif sudah dibuat, sesegera mungkin, jangan sampai permasalahan ini berlarut-larut. Sampah hari ini sudah dimana-mana, karena pemukiman dan warga semakin banyak, maka volume sampah pun semakin luar biasa, belum lagi di Kabupaten Bekasi ini kan ada kawasan industri terbesar di Asia Tenggara,” paparnya.

Berdasarkan paparan Kepala Bidang (Kabid) Kebersihan DLH dan Balitbangda, lanjut Nunu, volume sampah di Kabupaten Bekasi mencapai dua ribu ton perhari, sementara yang masuk ke TPA Burangkeng hanya sekitar 800 ton per hari.

“Jika permasalahan sampah ini tidak segera ada solusi yang efektif, maka akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Karena dengan bertumpuknya sampah itu akan menjadi sarang dari lalat atau bakteri yang pastinya akan mengancam kesehatan masyarakat,” tandasnya.
(bray)