Petani Bawang Di Bima Mengeluh Rugi

Spread the love

PETANI BAWANG DI BIMA MENGELUH RUGI BAHKAN MALAH BERTAMBAH HUTANG KATIMBANG PENDAPATAN HASIL TANI

bekapjabar.com
Petani Bima
Ketika harga bawang merah 100 kg seharga 1 botol obat fungisida
Bukan hanya rugi tapi menanggung hutang karena biaya pengeluaran petani lebih tinggi daripada hasilnya.

Inilah Dampak nyata Import bawang merah dan bahan pangan yang berlebihan
Petani kecil di rugikan.
Dengan menutup Jalan
Menuntut di depan Kantor Bupati Bima
Agar para elit di Republik ini mendengar Jeritan Mereka
10/10/2018

Mereka sesungguhnya petani yang pekerja keras dan mandiri
Berangkat di penghujung malam pulang di tengah malam
Tidak terjamah oleh bantuan pemerintah
Tidak terjamah oleh sistem yang memihaknya
Mereka tidak pernah menuntut bibit bantuan dari Negara
Mereka tidak pernah meminta tekhnologi pertanian yang canggih
Mereka tidak pernah menuntut Fungisida, pupuk, di turunkan ketika harga bawang merah mereka di hargai dengan layak

Sekitar 70% roda ekonomi mandek ketika bawang tidak memiliki harga
Bukan paceklik, bukan hama, bukan musim yang tak menentu dan alam yang menghancurkan harapan mereka.
Tapi Import yang berlebihan,aktor-aktor tamak dan serakah di republik ini yang mengambil untung dari sekaratnya para petani.
Sistem tidak pernah tersentuh ke mereka
Tak ku bayangkan bila berjumpa rakyat yang kerja keras denga di dukung sistem yang memihaknya dan aktor politik yang cinta petani
Roda ekonomi akan berputar cepat dan melaju

PETANI
(Penyangga Tatanan Negara Indonesia)
(Bung Karno di dalam buku Di bawah bendera Revolusi)

Kini nasibmu sekarat bukan di tebas oleh alam yang marah
Bukan pula panen serentak di seluruh Negeri
Tapi Nasibmu sekarat di tebas oleh Aktor Politik-Ekonomi yang maruk

Saya Enggan menggiring politik atas jeritan Petani
Tapi Kebijakan Tuan-tuan Melakukan Import yang mematikan petani di dukung oleh Wakil-wakil mereka di DPR di putuskan secara politik di gedung perwakilan rakyat.
(Abray)