SEMIOTIKA TEKNOLOGI DALAM DARING MELALUI MEDIA SOSIAL WHATSAPP

Spread the love

Oleh : Dian Rahayu Apriliyani

( Pendidikan Bahasa Indonesia, Pasca Sarjana UHAMKA )

Abstrak

Dewasa ini dunia maya ataupun yang sering kita sebut dengan media sosial sudah banyak digandrungi oleh manusia di muka bumi ini terutama di Indonesia. Di jaman yang serba kekinian manusia tak seorang pun luput dari benda elektronik seperti gadget, laptop, HP, dan lain sebagainya.hampir semua bahkan seluruh kalangan manusia dari yang muda,dewasa sampai orang yang sudah tua pun tak luput dari yang namanya gadget atau HP,bahkan anak – anak pun hampir semua sudah bisa mengoperasikan alat elektronik tersebut dengan mudahnya. Apalagi di masa pandemic ini semua anak – anak sekolah diwajibkan untuk bisa mengoperasikan gadget tersebut karena kaitannya dengan pembelajaran yang mereka harus jalani saat ini yaitu BDR ( belajar di rumah) atau PJJ ( pembelajaran jarak jauh) dimana hal tersebut diwajibkan oleh pemerintah untuk belajar dengan metode DARING, LURING, bahkan ada yang menggunakan metode home visit.yaitu dengan cara seorang guru berkunjung ke rumah siswa – siswanya untuk mengajari siswa tersebut. Disini penulis melakukan penelitian selama pandemic covid 19 ini,tentang pembelajaran , metode pembelajaran, bagaimana caranya agar siswa masih tetap bisa belajar meski harus dari rumahnya sendiri.

Pandemic covid yang sudah melanda bumi ini bukan hanya di Indonesia saja tetapi juga di negara – negara lain pun di luar Asia bahkan sampai negara terbesar di Eropa,semenjak awal tahun 2020 hingga saat ini,sudah banyak memakan korban,bukan hanya korban fisik dengan banyaknya pasien yang meninggal,dan  psikis,akan tetapi juga korban mental,dan pelumpuhan system otak generasi muda bangsa karena secara tidak langsung anak – anak sekolah baik dari sekolah dasar sampai sekolah tinggi universitas pun mau tidak mau suka tidak suka harus belajar mandiri di rumah.

Di Indonesia khususnya selama pandemic covid dan diberlakukannya PSBB, lockdown, bahkan sekarang dengan sebutan PPKM siswa dipaksa untuk tetap belajar mandiri dari rumah dengan system BDR atau belajar dari rumah. Pemerintah terutama menteri pendidikan Nadiem Makariem menegaskan bahwa pendidikan di Indonesia harus tetap berjalan harus tetap dijalani meski kondisi saat ini  tidak memperbolehkan  siswa datang ke sekolah untuk menuntut ilmu dengan belajar di sekolah.Mas menteri sendiri memberi kebijakan – kebijakan yang mempermudah bagi guru dan siswa agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan baik, dan tidak harus mengejar target kurikulum yang sudah ada melainkan dari kurikulum yang sudah ada pun boleh disederhanakan lagi sesuai dengan kondisi saat ini,meski harus dengan cara PJJ ( pembelajaran jarak jauh)  atau yang kita kenal dengan  sebutan BDR (belajar dari rumah). Tentunya BDR ini dilakukan dengan beberapa cara diantaranya : belajar online yaitu dengan metode DARING dan LURING, dimana metode daring ini hanya dilakukan dengan kondisi para siswanya seluruhnya mampu dan mempunyai alat untuk mempermudah pembelajaran yaitu gadget atau yang kita kenal dengan sebutan HP. Dimana HP saat ini amat begitu penting bukan hanya untuk kalangan atas saja bahkan sampai kalangan menengah pun membutuhkan alat elektronik ini untuk pembelajaran jarak jauh, selain itu ada juga yang menggunakan system atau metode home visit, dimana metode ini digunakan atau dilakukan oleh peserta didik dan guru, ketika peserta didik atau siswa tidak memiliki gadget atau HP untuk melakukan pembelajaran,maka dibolehkanlah metode home visit ini dengan cara seorang guru berkunjung ke rumah siswanya untuk melakukan kegiatan belajar mengajar secara langsung .

Metode DARING itu sendiri ada beberapa jenis untuk digunakan, diantaranya : melalui Whatsapp, google classroom,google form,zoom, google meet,bahkan ada yang melalui youtube dan facebook. Apapun bentuknya dan bagaimana pun caranya setiap guru mempunyai cara atau metode masing – masing untuk menyampaikan materi – materi pelajaran agar mudah dimengerti oleh siswanya.

Dari sekian banyak jenis metode belajar online, mungkin yang saat ini paling digemari dan mudah dipahami yaitu dengan metode DARING melalui Whatsapp, kenapa Whatsapp karena Whatsapp adalah media sosial yang setiap hari digunakan manusia untuk berkomunikasi,sehingga dengan mudah melakukan pembelajaran melalui Whatsapp.

Seorang guru bisa membuat grup kelasnya di whatsapp,setelah itu guru tersebut melakukan pembelajaran DARING melalui grup whatsapp tersebut, mulai dari ceklis absensi kehadiran siswa yang menyimak grup,pemberian materi dengan cara share video pembelajaran,hingga pemberian tugas yang harus dikerjakan siswa dan dikirimkan melalui whatssapp grup tersebut.bukan hanya itu saja,whatsapp juga bisa melakukan video call dengan jumlah orang lebih dari dua,bahkan bisa sampai 8 atau 10 orang. Dengan video call tersebut guru bisa bertatap muka langsung dengan muridnya meski melalui layar kaca HP.tentunya dari cara – cara pembelajaran DARING yang dilakukan seorang guru terhadap siswanya melalui media sosial apapun bagaimana pun caranya tentunya didalamnya terdapat tanda – tanda atau symbol – symbol yang menunjukan adanya semiotika teknologi melalui media sosial khususnya whatsapp. contoh, ketika guru ingin mengabsen siswanya yang hadir menyimak grup whatsapp saat itu membuat daftar nama siswanya di grup dan memberi perintah pada siswanya bagi siapa saja yang hadir agar memberi tanda centang atau ceklis pada datar absensi disamping namanya sendiri.kemudian contoh lain ketika guru akan melakukan pembelajaran DARING guru tersebut memberi petunjuk di awal pembelajaran agar menyimak materi yang akan dibahas atau diterangkan oleh guru tersebut dalam grup whatsapp kemudian apa perintah tugas yang harus dikerjakan selanjutnya.

Disini peneliti melakukan penelitian langsung selama pandemic berlangsung peneliti yang kebetulan juga seorang guru sekolah dasar di daerah cikarang,melakukan penelitian langsung pada diri sendiri ketika peneliti melaksanakan pekerjaannya melakukan kegiatan belajar mengajar dengan metode DARING melalui media sosial Whatsapp.

                                                                                                                        Terimakasih,

Salam dari penulis

Dian Rahayu Apriliyani

(Red)